Tanaman Garut (Maranta arundinaceae Linn). Umbian Berpotensi Sumber Pangan Alternatif

Tanaman garut secara umum disebut juga dengan nama Arrowroot yang artinya adalah tumbuhan yang memiliki akar rimpang atau umbian dan berbentuk menyerupai busur panah. Nama ilmiah tanaman garut adalah Maranta arundinacea Linn, dengan famili Marantaceae. Di Indonesia tanaman garut dikenal dengan banyak nama tergantung pada daerah asalnya. Misalnya disebut sagu betawi atau sagu belanda, ubi sagu, arerut atau arirut (Melayu), angkrik, arus, irut, jelarut, larut, erut (Jawa), larut atau patat sagu (Sunda), arut atau larut (Madura), Hudasula (Ternate).  
 

Tanaman garut merupakan tumbuhan herba merumpun dan menahun. Batangnya tumbuh tegak yang merupakan kumpulan pelepah daun saling tumpah tindih secara beraturan sehingga disebut batang semu. Tinggi tanaman dapat mencapai 1,0-1,5 meter, tergantung tingkat kesuburan tanah. Daunnya berbentuk oval yang tersusun dalam tangkai. Helai daun memiliki panjang 10-15 cm, lebar 3-10 cm, berwarna hijau, bertulang daun sangat banyak dan cetaknya sejajar.  
 
Garut juga merupakan salah satu tanaman yang dapat dijadikan bahan pangan lokal, komposisi kandungan nutrisinya cukup baik, memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi, dan berpotensi sebagai sumber pangan alternatif.  
 
Karakteristik dan taksonomi tanaman garut. 
 
Garut merupakan tanaman monokotil yang berkembang biak secara vegetatif dan persilangan membentuk bunga yang akan meningkatkan keragaman genetik. Tanaman garut yaitu berumpun, tegak dan merupakan tanaman tahunan. Batang berdaun, memiliki percabangan menggarpu dengan tinggi mencapai 1-1,5 m.

Tanaman garut memiliki nama latin yaitu Maranta arundinaceae Linn dengan genus Maranta. Selain Maranta arundinaceae, di Indonesia terdapat spesies lain, yaitu Marantha linearis yang memiliki daun bergaris-garis hijau dan putih

Klasifikasi tanaman garut : 
 
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Ordo : Zingiberales
Famili : Marantaceae
Genus : Maranta
Spesies : Maranta arundinaceae Linn. 
 
 
Genus Maranta meliputi 23 spesies. Spesies garut yang ada di Indonesia pada umumnya adalah Maranta arundinacea L. Sedangkan berdasarkan bentuk umbi atau rhizoma, garut dapat dibedakan jadi dua jenis, yaitu creole dan banana. Jenis creole berukuran panjang, kurus, dan tumbuh menembus ke dalam tanah dan sering disebut akar cerutu, sedangkan jenis banana berukuran pendek, gemuk, dan tumbuh lebih dekat ke permukaan tanah.  
 
Kedua jenis umbi garut tersebut berbeda dalam kadar pati dan lama penyimpanan hasil panennya. Jenis creole lebih tahan disimpan dan kadar pati lebih tinggi, sedang jenis banana sebaliknya. 
 
Ciri morfologis tanaman garut secara umum. 
 
Tanaman garut adalah tumbuhan bersifat herba yang merumpun dan menahun. Bentuk batangnya tumbuh tegak yang merupakan kumpulan pelepah daun saling tumpah tindih secara beraturan sehingga disebut batang semu. Tinggi tanaman umumnya bisa mencapai 1,0-1,5 meter, hal ini tergantung dari tingkat kesuburan lahan tempat tanaman garut tumbuh. Tanaman garut mempunyai sistem perakaran serabut.  
 
Daunnya berbentuk oval rapih dan tersusun dalam tangkai yang memanjang ke atas. Helaian daun memiliki panjang antara 10-15 cm, dan lebar antara 3-10 cm, berwarna hijau, bertulang daun sangat banyak dan cetaknya sejajar. Sekilas tanaman garut sangat mirip dengan tanaman rimpang kunyit.
 
Bunga garut kecil-kecil dengan panjang 2 cm dan terletak pada pangkal ujung. Pada bunga hanya terdapat satu benang sari fertil dengan kepala sari beruang satu. Bunga majemuk bentuk tandan, mahkota berwarna putih, kelopak bunga hijau muda, buah memiliki garis tengah 1 cm, bentuk kotak dan agak bulat dengan bulu menyelimuti badan buah.  
 
Tanaman ini berbunga pada umur 97 hari sejak awal tanam dan membentuk umbi yang berasal dari daerah akar yang membesar dan menembus ke dalam tanah. Buahnya tenggelam dan beruang, tiap ruangnya hanya terdapat satu bakal biji dengan panjang buah hanya sekitar 7 mm.  
 
 
Rhizoma atau umbi garut mula-mula berupa batang yang merayap (stolon) kemudian menembus kedalam tanah dan secara bertahap membengkak menjadi suatu organ yang berdaging. Rhizoma atau umbi garut ini memiliki berbentuk yang khas yaitu melengkung menyerupai bentuk busur panah. Rhizoma memiliki panjang 20-40 cm, dengan diameter 2-5 cm, berwarna putih, berdaging tebal dan terbungkus oleh sisik yang saling menutupi. 
 
Umbi garut dapat dijadikan sumber karbohidrat alternatif sebagai pengganti tepung terigu karena kandungan patinya yang tergolong besar, terutama yang berumur 10 bulan setelah tanam. Pati garut dapat digunakan sebagai bahan baku makanan dan minuman, farmasi atau obat-obatan, kimia, kosmetik, tekstil, kertas dan karton.  
 
Sifat khas tanaman garut adalah mempunyai toleransi yang tinggi terhadap lingkungan yang ternaungi, sehingga tanaman ini dapat ditanam di pekarangan dan kawasan hutan (agroforestry). Tanaman garut dapat dijadikan tanaman sela (intercroping) di perkebunan karet, kelapa, jeruk, kawasan hutan jati atau hutan pinus serta tanaman tahunan lainnya.  
 
Reproduksi perkembangbiakan tanaman garut. 
 
Garut termasuk tanaman tahunan yang dapat tumbuh pada ketinggian 0-900 m diatas permukaan laut (dpl) dan tumbuh baik pada ketinggian 60-90 m dpl. Tanah yang lembab dan tempat-tempat yang terlindung merupakan habitat yang baik bagi tanaman garut.
 
Teknik penanaman bibit garut dapat dilakukan dengan anakan (stolon) dan umbi langsung, selain itu juga dapat menggunakan stek umbi dengan 2-3 mata tunas. Umbi garut yang akan dijadikan bibit sebaiknya dari tanaman yang telah siap dipanen sehingga umbinya telah tua. Umbi dipotong-potong menjadi beberapa bagian sebagai stek umbi. Tiap bagian yang akan digunakan sebagai bibit, hendaknya memiliki 2-3 mata tunas.

Secara visual, potongan bagian umbi garut pada bagian ujung relatif lebih muda dibandingkan dengan potongan bagian umbi yanglain yang letaknya mendekati pangkal umbi. Stek umbi pada bagian pangkal lebih cepat tumbuh dari pada stek umbi bagian lain, karena mungkin pada bagian pangkal umbi memiliki sumberenergi untuk perkembangan tunas lebih banyak dari pada bagian ujung umbi.  
 
Untuk meningkatkan pertumbuhan, tanaman garut juga memerlukan faktor-faktor tumbuh yang optimum baik berupa hormon yang dihasilkan oleh tanaman itu sendiri (endogen) maupun dari luar tanaman (eksogen) atau zat pengatur tumbuh. 
 
 
Komposisi kandungan nutrisi pada tanaman garut. 
 
Tanaman dari jenis umbi-umbian atau akar-akaran ini mengandung pati yang tinggi. Berbagai jenis umbi-umbian banyak ditanam melimpah di berbagai negara bagian Asia Tenggara, bahkan menjadi salah satu makanan pokok bagi para penduduknya. Umbi-umbian selain merupakan salah satu sumber energi yang baik, juga mengandung kalsium, vitamin C, vitamin A. Pada produk umbi-umbian mempunyai kandungan protein dan lemak yang cukup rendah sehingga apabila dimanfaatkan sebagai makanan pokok harus diimbangi dengan konsumsi protein hewan. 
 
Tanaman garut merupakan salah satu tanaman yang memiliki kandungan nutrisi cukup baik untuk di konsumsi. Umbi garut segar mengandung nutrisi yang cukup tinggi sebagai bahan pangan, yaitu 19,14%-21,7% pati, 1,0%-2,2% protein, 69,0%-72,0% air, 0,6%-1,3% serat, 1,3%-1,4% kadar abu, serta sedikit gula.  
 
Salah satu sumber menyebutkan bahwa umbi garut memiliki manfaat kesehatan yang baik karena indeks glikemiknya rendah yaitu 14, lebih rendah dari beras, terigu, kentang, dan ubi kayu masing-masing sebesar 96, 100, 90, dan 54. Indeks glikemik umbi-umbian lainnya, seperti gembili, kimpul, ganyong, dan ubi jalar masing-masing 90, 95, 105, 179. Hal ini memberikan informasi bahwa umbi garut dapat digunakan sebagai sumber pangan yang memiliki nilai kecernaan rendah sehingga dapat digunakan sebagai diet rendah kalori.  
 
Indeks glikemik merupakan ukuran yang menyatakan kenaikan kadar gula darah seseorang setelah mengkonsumsi makanan yang bersangkutan. Makin tinggi indeks glikemik, makin tidak baik dikonsumsi penderita diabetes. Garut aman dan baik dikonsumsi dan perlu disosialisasikan, terutama bagi masyarakat yang kurang pangan di pedesaan maupun di perkotaan.  
 
Pemanfaatan umbi garut menjadi bahan tepung pengganti tepung terigu. 
 
Garut dapat di olah menjadi berbagai produk antara lain garut rebus, tepung garut, keripik garut, emping garut dan berbagai masakan olahan tepung garut misalnnya jentik manis, kue dadar dan jenang garut. Tepung garut juga bisa digunakan sebagai makanan tambahan untuk balita. Tepung garut dapat diolah dari umbi garut. Kandungan pati umbi garut antara 8-16% tergantung dan kesuburan tanaman. Negara penghasil umbi garut terbesar adalah Sint Vincent (Amerika Tengah) dan bermuda.  
 
 
Pengolahan tepung garut dalam skala besar dilakukan oleh masyarakat pedesaan, sedangkan dalam skala besar dilakukan di pabrik–pabrik. Cara pembuatan tepung garut sama dengan tepung lainnya (tepung tapioka, tepung sagu dan sebagainya) yaitu dengan cara ekstraksi basah. Tepung garut diperoleh dari umbi garut melalui proses penepungan dan merupakan sumber potensial pengganti terigu. Tepung garut berwarna putih. Ketahanannya bisa mencapai 9 bulan, asal berkadar air kurang dari 18,5%.

Pembuatan tepung garut adalah umbi dibersihkan dari sisiknya. Pembersihan ini penting karena dapat mempengaruhi hasil akhir dari tepung. Umbi dicuci kemudian diparut sampai menjadi bubuk kasar. Bubur dicampur dengan air lalu diaduk sambil remas-remas. Campuran ini disaring untuk memisahkan serat-seratnya. Larutan ini diendapkan sampai airnya menjadi jernih. Setelah itu airnya dibuang. Gumpalan pati diletakkan di tempayan/nampan lalu dijemur sampai kadar airnya kurang dari 18.5%. Gumpalan pati yang sudah kering dihancurkan sampai tepung halus dan disimpan di tempat yang kering. 
 
Demikian paparan tentang Tanaman Garut (Maranta arundinaceae Linn). Umbian Berpotensi Sumber Pangan Alternatif. Tulisan dimuat dan di olah berdasarkan referensi sumber berikut :
  • http://eprints.umm.ac.id/35827/3/jiptummpp-gdl-nurfitrian-48025-3-babii.pdf
  • http://repository.umy.ac.id/bitstream/handle/123456789/22718/6.%20BAB%20II%20TINJAUAN%20PUSTAKA.pdf?sequence=6&isAllowed=y
  • http://eprints.umm.ac.id/35858/3/jiptummpp-gdl-uswatunkha-42151-3-babii.pdf
  • https://media.neliti.com/media/publications/54596-ID-keragaman-karakter-morfologis-garut-mara.pdf
Gambar dimuat berdasarkan hasil penelusuran google dengan kata pencarian "tanaman garut, karakteristik jenis tanaman garut, klasifikasi morfologi tanaman garut, kandungan nutris dan manfaat tanaman garut". Sekian, semoga dapat menjadi referensi bacaan yang manfaat. Terimakasih.

No comments: